Assalamu
‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Salam kesejahteraan semoga tetap
tercurahkan untuk kita semua. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Rabbul
‘Alamin. Dialah yang senantiasa memberikan nikmat-Nya kepada kita semua yang
tak akan pernah bisa kita hitung. Shalawat dan Salam hormat senantiasa kita
kirimkan kepada junjungan besar kita, penutup para Nabi, Rasulullah Muhammad
Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Beliaulah yang telah menggulung tikar-tikar
kekafiran dan menghamparkan permadani-permadani islam.

Akhii
wa ukhtii fillah.. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya setiap jiwa akan merasakan
yang namanya kematian. Meski begitu,
sebelum datang hari yang sungguh mengerikan (hari kiamat), akan datang suatu
masa yang mana ruh akan dicabut dari ubun-ubun seseorang. Ruh itu akan dicabut
dari ilusi dan penipuan (dunia) ke suatu tempat dimana terdapat azab yang pedih
lagi hina yaitu neraka atau ke tempat yang penuh dengan kesenangan dan
kenikmatan yaitu surga yang tinggi.
Sungguh, datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Inilah yang
dahulu hendak kita hindari.
Itulah
waktunya, dimana seseorang melayangkan pandangan terakhirnya kepada anak laki-laki
dan perempuannya. Itulah waktunya, dimana seseorang melayangkan pandangan
terakhirnya kepada saudara/saudarinya. Melayangkan pandangan terakhirnya kepada
dunia ini.
Sungguh,
perkara (kematian) ini merupakan perkara yang orang kafir dan dzalim pun
percaya akan kedatangannya. Lezatnya dunia benar-benar tergantikan dengan
sakitnya sakratul Maut yang terasa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Taring-taring
kematian sangat terlihat jelas dari wajahnya. Dan dari dalam kuburnya,
terdengar suara rintihan dan hembusan nafas. Kemudian, waktu demi waktupun
dijalani oleh seorang calon penghuni akhirat. Ruh seorang hamba yang sholeh akan
ditasbihkan berpindah dari dunia yang fana menuju negeri akhirat yang kekal. Kematian
merupakan waktu yang menentukan. Saat-saat yang mendebarkan itu pun mewafatkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kematian
pun tiba. Tak ada yang dapat mengakhirkannya dan tidak ada pula yang mampu
mendahulukannya. Saat kematian tiba, disaat itulah orang-orang menyadari betapa
hinanya hidup di dunia ini. Betapa hinanya ia karena telah durhaka kepada Tuhan
Yang Maha Penyayang. Kepedihan yang hebat dan penyesalan yang sangat besar pun
tiba. Pada saat itu, semua orang bertanya apakah aku akan mendengar seruan
menuju neraka atau seruan menuju surga. Dalam sekejap itupun, ruh akan kembali
kepada penciptanya Yang Maha Besar lagi Agung.
Andai
saja saudara/saudariku sekalian mengetahui! Bahwasanya kematian telah merenggut
jiwa orang shaleh dari tidurnya. Dengan sekejap, ruh orang-orang shaleh akan
dipindahkan dari yang hina (dunia) menuju tempat yang penuh kesenangan yaitu
surga yang tinggi nan abadi. Di sana mereka merasakan kenikmatan,
bangunan-bangunan yang mengagumkan dan indah dan para bidadari yang cantik
jelita. Laa ilaha illallah...
Wahai
hamba Allah. Ingatlah kematian. Jangan biarkan ada anggapan dalam hati kalian
untuk terus berbuat dosa. Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus akan menjadi
dosa yang sangat besar. Bahkan dosa kecil yang dilakukan berulang kali akan lebih
besar dari pada gunung. Jangan menganggap bahwa “sekarang saya masih mau
berbuat dosa. Urusan tobat mah belakangan. 5 menit sebelum aku matipun aku
masih bisa bertaubat”. Jika kita beranggapan seperti itu, sama saja kita
membuat rencana untuk mendurhakai Allah. Kita bisa membuat rencana, tetapi
ingatlah Allah pun membuat rencana dan Allah-lah sebaik-baik pembuat rencana.
Kematian
merupakan perkara yang pasti. Kedatangannya pun secara tiba-tiba. Tak ada yang
menyadari bahwa perkara yang nanti akan membuatnya tidak bersama dengan
keluarganya itu telah tiba.
Adz-dzahabi
dalam kitabnya pernah menceritakan beberapa orang yang wafat dalam su’ul
khatimah (akhir yang buruk). Adz-dzahabi berkata “Dia adalah seorang yang senang bermain catur. Dipenghujung hidupnya,
orang-orang di sekitarnya menuntunnya untuk mengucapkan Laa ilaha illallah.
Namun orang itu tak mampu mengucapkannya. Dan kemudian sebelum ia meninggal, ia
terus mengucapkan “skakmat, skakmat, skakmat” dan kemudian orang itupun
meninggal”
Adz-dzahabi
pun menceritakan orang yang lain “Dia
adalah seseorang yang suka mabuk-mabukan. Dipenghujung hidupnya, orang-orang di
sekitarnya menuntunnya untuk mengucapkan Laa ilaha illallah. Namun orang yang
sakarat itu hanya mengatakan “berikan aku botolnya. Aku ingin mabuk (khamr)”.
Lalu orang itupun meninggal”
Na’udzu
billah. Kita berlindung kepada Allah. Sebenarnya orang itu mampu mengucapkan
Laa ilaha illallah. Lidahnya tidak cacat sedikitpun. Namun Allah-lah yang tidak
memberikan izin untuknya. Allah tidak memberikan taufiq kepadanya. Mereka tidak
mempunya goresan Laa ilaha illallah dalam hidupnya. Mereka tidak mempunyai niat
untuk menyembah Allah hingga akhir hayatnya.
Saya
juga pernah mendengar ceramah seorang ulama yang menceritakan kisah nyata seorang
kakek yang sedang sakaratul maut. Ulama itu berkata “Kami mengunjungi seorang kakek yang sedang sekarat. Lalu kami melihat
dan mendengar semua orang yang berada di dalam rumah kakek itu sedang
mendengarkan musik ummu kultsum dengan keras. Ummu Kultsum merupakan seorang
penyair arab. Kakek itu sedang berada di penghujung hidupnya, sedang
tape-recordernya masih berada di kedua telinganya mendengarkan lagu ummu
kultsum dengan volume keras. Tiba-tiba seorang sheikh masuk ke rumah itu dan memberitahu
mereka “Ittaqullah <bertaqwalah kepada Allah>. Sungguh dia sedang sekarat
sedangkan kalian mendengarkan lagu”. Kemudian mereka menggantikan lagu ummu
kultsum dengan kaset Al-Quran. Ketika kakek itu mendengarkan Quran, ia berkata
“matikan itu! Masukkan kaset ummu kultsum kembali karena ia menenangkan hatiku”
lalu kakek itupun meninggal”
Akhii
wa ukhtii fillah...
Ketika
kita terbiasa melakukan sesuatu, maka kita akan meninggal karena hal itu.
Janganlah kita berpikir kita bisa mengakali Allah Subhanahu wata’ala. Kita harus mempunyai rasa takut. Orang yang
merasa aman dari azab Allah, mereka itulah orang-orang yang kalah. Takut
merupakan kualitas integral orang muslim. Kita harus mempunyai rasa takut untuk
menjadi mukmin yang sejati.
Sekian
pesan Islam yang sempat saya sebarkan untuk saudara/saudariku sekalian. Semoga
bermanfaat dan menyadarkan kita akan kematian. Syukron. Wassalamu ‘alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar